PERTEMUAN II
HIDUP BERPAROKI
PEMBUKAAN
Lagu Pembuka
(jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
Tanda Salib dan Salam
Pengantar
Saudara-saudari,
Dalam pertemuan yang pertama, kita telah mendalami hakekat paroki sebagai
persekutuan umat beriman Kristiani yang dibentuk secara tetap dalam
batas-batas wilayah tertentu di keuskupan. Masing-masing paroki digembalakan
oleh gembalanya sendiri, yaitu Pastor Kepala Paroki. Dalam menggembalakan
umat paroki, Pastor Kepala Paroki menghadirkan penggembalaan bapak Uskup di
parokinya. Dalam melaksanakan tugas penggembalaannya, Pastor Kepala Paroki
dibantu oleh satu atau beberapa pastor rekan. Meski demikian, para pastor
ini tetap memiliki banyak keterbatasan dalam menggembalakan umat paroki
dengan aneka kebutuhannya. Oleh karena itu, kesediaan tulus umat paroki
untuk terlibat aktif dalam penggembalaan para pastor tetap sangat
diperlukan. Dengan demikian, mengembangkan kehidupan paroki bukanlah urusan
romo paroki saja, tetapi merupakan urusan bersama. Maka berparoki berarti
menggereja bersama.
Dalam pertemuan kedua ini, kita akan mendalami makna hidup berparoki. Oleh
karena itu, marilah kita mempersiapkan diri dengan memohon kehadiran Roh
Kudus untuk membimbing pertemuan ini.
Doa Pembuka
Ya Bapa yang Mahakasih, syukur kami haturkan kepadaMu, karena Engkau
mengumpulkan kami kembali sebagai persekutuan umatMu yang kudus.
Hari ini
kami melanjutkan perjalanan tobat di masa prapaskah dengan merenungkan
kembali apa maknanya hidup berparoki.
Utuslah Roh KudusMu untuk menerangi
dan membimbing pertemuan ini sehingga kami menghasilkan buah pertobatan bagi
perkembangan kehidupan paroki kami.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami,
kini dan sepanjang masa, Amin.
BELAJAR DARI PENGALAMAN
Setelah selesai pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Badan
Gereja Katolik Paroki (BGKP), Pak Andri, Pak Hartono, Ibu Hartono dan Pak
Stef pulang bersama dalam satu mobil.
Di dalam mobil, Ibu Hartono membuka pembicaraan: Homili romo Vikep
tadi bagus ya. Bahwa menjadi pengurus di paroki, entah itu di Lingkungan,
Wilayah, Organisasi dan Paroki merupakan kesempatan untuk menjadi lebih
beriman. Tetapi mengapa ya kok tidak banyak yang bersedia?
Langsung pak Hartono menyahut: Nyatanya yang mau ya itu-itu saja.
Saya ini sudah menjadi seksi Liturgi Paroki 3 periode. Mencari penggantinya
sulit. Tidak ada yang mau. Banyak alasan yang disampaikan. Ada yang tidak
punya waktu, ada yang masih belum mampu, ada yang tidak berani...... banyak
alasan. Pokoknya jangan saya......
Pak Andri menyambung: saya terkesan dengan homili romo yang
mengatakan jika para pengurus sering mengeluh, tidak dapat bekerjasama
dengan yang lain, merasa diri paling benar dan baik, maka ya tidak ada yang
mau menjadi pengurus. Tak mau kalah,
Pak Hartono langsung menyambung lagi: Iya...... tadi romo Vikep
mengutip kata-kata Paus Fransiskus, wajah orang Katolik seperti wajah orang
yang pulang dari pemakaman,
tidak ada sukacita, ya tentu tidak ada yang bersedia menjadi pengurus. Maka
yang terjadi adalah merangkap-rangkap tugas. Seksi Katekese sekaligus Ketua
Lingkungan dan anggota BGKP. Kasihan kan. Kapan waktunya untuk keluarga? Ibu
Wiwik tadi, dia Sekretaris DPP tetapi juga Ketua Wilayah dan Ketua WKRI.
Ibu Hartono menambah: Bukan hanya itu pak Andri. Saya tadi mengamati
bahwa pengurus yang dilantik tadi ada lebih 20 orang yang usianya di atas 65
tahun. Kemana mereka yang masih muda? Sedih melihatnya.
Pak Stef yang dari tadi diam, ikut bicara: Sebenarnya yang muda
banyak yang bersedia...... tapi yang tua-tua atau yang sudah lama jadi
pengurus tidak memberi kesempatan yang muda......selalu saja tidak puas
dengan yang muda. Tidak membiarkan anak muda melalukan dengan caranya
sendiri. Yang tua merasa caranya yang paling benar.
Mendalami Pengalaman
Saudara-saudari setuju pendapat siapa? Beri alasan (singkat saja)
BELAJAR DARI AJARAN GEREJA. Pemandu (atau yang ditugaskan) membacakan
dengan jelas, dan tidak perlu terburu buru. Dapat dibacakan dua kali jika
diperlukan. Peserta diberi waktu hening beberapa saat untuk membaca secara
pribadi dan menemukan kata atau kalimat yang berkesan (menarik).
Saudara-saudari terkasih,
mari kita membaca Pendahuluan Pedoman Dasar DPP-BGKP Keuskupan Surabaya,
alinea 1 hal. 7. Saya akan membacakan terlebih dahulu, kemudian dipersilakan
saudara-saudari membacanya secara pribadi dan memberi tanda pada kata atau
kalimat yang berkesan.
Pedoman Dasar DPP-BGKP
( Pendahuluan, alinea 1 hal. 7).
Berparoki berarti bersama menggereja. Paroki adalah urusan bersama. Tentu
saja pelaksanaan konkritnya membutuhkan pembagian tugas yang jelas dan
organisasi yang mantap, mentalitas yang memadai, kepemimpinan yang
partisipatif, cara kerja dan programasi yang konseptual-sistematis, tetapi
itu semua adalah sarana dan ungkapan untuk mengembangkan gagasan
teologis yang lebih mendalam dan mendasar: berparoki berarti bersama-sama
menggereja.
Pendalaman Ajaran Gereja
| 1. | Dari ajaran Gereja tersebut, kata atau ungkapan apa yang menarik bagi saudara- saudari? (baca saja, tidak perlu dijelaskan) |
| 2. | Menurut saudara-saudari, apa yang dimaksud berparoki berarti bersama menggereja? |
| 3. | Menurut saudara-saudari, apa artinya berparoki membutuhkan pembagian tugas yang jelas dan organisasi yang mantap? |
Penegasan
(dibacakan Pemandu dengan pelan dan jelas)
Saudara-saudari,
Banyak orang yang terlibat dalam paroki baik sebagai petugas maupun
pengurus. Hal ini menunjukkan dengan jelas bahwa hidup berparoki adalah
bersama-sama menggereja. Dengan menerima baptis kita disatukan dalam
Gereja, Tubuh Kristus. Seperti halnya tubuh kita, masing-masing anggota
memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Mereka saling bekerjasama dalam
tubuh yang sama. Ketika perut lapar, yang melihat makanan adalah mata. Namun
tanganlah yang mengambil makanan dan memasukan ke dalam mulut. Dan gigi di
dalam mulutlah yang mengunyah makanan. Tenggorokkan menelan makanan untuk
masuk ke dalam perut. Dan yang kenyang adalah seluruh tubuh. Masing-masing
memiliki peran dan tugasnya sendiri namun dalam kesatuan dengan seluruh
tubuh. Demikian pula sebuah paroki sebagai Gereja, sebagai Tubuh Kristus.
Maka penegasan dalam Pendahuluan Pedoman Dasar DPP-BGKP, bahwa paroki adalah
urusan bersama, berarti berparoki bukan hanya urusan romo-romo; bukan hanya
urusan beberapa orang pengurus, tetapi bersama-sama menggereja. Romo-romo,
tanpa keterlibatan tulus dari umat beriman, paroki tidak hidup dan
berkembang dengan sehat. Apakah semuanya akan dikerjakan oleh para romo,
mulai dari koster, lektor, organis, mengajar katekumen, memandu pendalaman
iman di Lingkungan dan Stasi, mengurus kehidupan Stasi dan Lingkungan? Tidak
akan berjalan dengan baik. Dan sebaliknya, umat beriman tanpa para romo,
tidak akan mengembangkan paroki. Siapa yang akan mempersembahkan Misa?
Siapa yang akan membaptis? Siapa yang memberi sakramen pengakuan dosa?
Siapa yang akan meneguhkan perkawinan? Siapa yang menggembalakan seluruh
umat? Maka berparoki berarti bersama menggereja, baik para romo maupun umat
beriman.
Saudara-saudari,
Keterlibatan setiap umat Katolik dalam menggereja adalah karena Baptis.
Karena beriman kepada Kristus, setiap orang yang dibaptis, disatukan dalam
Gereja, Umat Allah. Maka kesatuan kita dalam Gereja diikat oleh iman kepada
Kristus. Oleh karena itu, keterlibatan tulus dalam mengembangkan Gereja,
sekecil apapun adalah karena iman kepada Kristus. Sekecil apapun yang kita
lakukan dalam kehidupan Gereja adalah demi mewujudkan iman kepada Kristus.
Iman tanpa perbuatan adalah mati. Tentu kita banyak terlibat dalam kehidupan
sehari-hari, entah itu di kampung, pekerjaan, maupun dalam kelompok atau
komunitas lainnya. Keterlibatan kita dalam kampung karena tuntutan hidup
sosial. Demikian juga keterlibatan kita dalam pekerjaan karena tuntutan
pekerjaan. Sedangkan keterlibatan kita dalam kehidupan Gereja karena iman
kepada Kristus. Ketelibatan ini memiliki dasar dan arti yang sangat
berharga: mewujudkan iman. Jadi bukan hanya sebatas tuntutan sosial atau
pekerjaan, tetapi perwujudan iman kepada Kristus. Dengan demikian bukanlah
tuntutan, tetapi ketulusan karena beriman kepada Kristus.
Saudara-saudari,
Dalam ajaran Gereja di atas, dinyatakan bahwa pelaksanaan konkrit
kebersamaan dalam hidup menggereja membutuhkan pembagian tugas yang jelas,
organisasi yang mantap, mentalitas yang memadai, kepemimpinan yang
partisipatif, cara kerja dan programasi yang konseptual-sistematis. Beberapa
hal penting perlu kita sadari dalam kebersamaan menggereja.
|
||
|
Banyak hal yang harus dilakukan dalam kehidupan Gereja, mulai dari Liturgi, Pewartaan, Persekutuan, Kesaksian dan Pelayanan Masyarakat. Dalam susunan kepengurusan Paroki, semua itu ada seksinya masing-masing. Maka dibutuhkan pembagian tugas yang jelas. Pembagian tugas yang jelas ini agar kebersamaan menggereja menjadi teratur, tidak asal grudukan. |
||
|
||
|
Organisasi yang mantap ini berhubungan langsung dengan pembagian tugas yang jelas. Hal ini menunjuk langsung pada peran dan tugas masing- masing. Maka masing-masing seksi atau pengurus memahami tugasnya dan melakukan tugasnya dengan penuh iman. Semua itu dilakukan demi mewujudkan iman, memuliakan Allah dan melayani umat beriman. |
||
|
||
|
Karena keterlibatan dalam kehidupan Gereja Paroki sebagai perwujudan iman, maka mentalitas yang memadai juga merupakan perwujudan iman. Diantaranya: kesediaan bekerjasama, saling menghargai, kesetiaan, kemauan untuk belajar, terbuka untuk perbaikan dan menerima partisipasi dari umat, memperhatikan kaderisasi atau regenerasi. Maka hendaknya dihindari sikap: mundah mutung, selalu mengeluh, merasa benar dan paling baik, menunjuk kesalahan orang lain, dll. |
||
|
||
|
Hal ini menunjuk pada sikap iman
terbuka untuk mengajak semakin banyak umat terlibat untuk mewujudkan iman.
Karena kerterlibatan merupakan kesempatan untuk mewujudkan iman dan
memberi kesempatan untuk |
||
|
||
|
Pernyataan ini mengajak kita untuk tidak asal membuat kegiatan, tetapi hendaknya direncanakan yang jelas. Misalnya, tujuannya apa? Bagaimana kelanjutannya? Ukuran keberhasilannya bagaimana? |
Saudara-saudari,
Kelima hal itu ditegaskan sebagai sarana dan ungkapan untuk mengembangkan
gagasan teologis yang lebih mendalam dan mendasar: berparoki berarti
bersama-sama menggereja. Yang dimaksud dengan gagasan teologis yang lebih
mendalam adalah bahwa Gereja adalah persekutuan umat Allah. Sebagai umat
Allah, Maka kehidupan Gereja menjadi tanggungjawab bersama, baik imam
maupun umat beriman, baik umat biasa maupun pengurus paroki. Kita diajak
untuk menghidupi dan mengembangkan Gereja Paroki. Karena semua romo dan umat
disatukan oleh iman, maka sekecil dan sesederhana apapun yang dilakukan demi
menghidupi dan mengembangkan paroki merupakan perwujudan iman.
Saudara-saudari,
Sering ada keluhan bahwa yang aktif dalam kehidupan paroki orangnya itu-itu
saja. Bagaimana di paroki saudara-saudari? Mengapa terjadi demikian?
Pernahkah saudara- saudari menjadi pengurus di paroki? Apa saja pengalaman
yang menggembirakan sebagai pengurus paroki? Apa saja pengalaman yang
mengecewakan? Bagaimana selama ini pembagian tugas dalam kepengurusan di
paroki saudara-saudari? Benarkah semua pengurus di paroki berperan dengan
semestinya? Mengapa? Pernahkah terjadi di paroki pengurus yang muthung atau
ngambek? Mengapa terjadi demikian? Dalam hal apa para pengurus melibatkan
banyak orang dalam melaksanakan kegiatan? Bagaimana relasi antar para
pengurus di paroki saudara-saudari?
DOA UMAT
(dipersilakan menyampaikan doa-doa spontan)
Doa Ardas Tahun 2026
Mendewasakan Hidup Berparoki
Melalui Perwujudan
Panca Tugas Gereja
(didoakan bersama)
Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkaulah sumber dan tujuan kerinduan setiap manusia untuk menjadi kudus.
Melalui peribadatan yang benar, sakral, dan agung, khususnya dalam Ekaristi,
kami menyembah-Mu dan ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu bagi dunia
yang lebih baik.
Tuhan Yesus,
Seperti para rasul telah Kauutus, demikian pula Engkau mengutus kami.
Utuslah kami menjadi pewarta Injil, pelaku keadilan, pembela kebenaran,
saksi kasih, pembangun persekutuan, pelopor persaudaraan sejati, serta
pejuang kelestarian alam.
Ya Roh Kudus,
Jiwailah kami dengan semangat mulia seperti yang Kaucurahkan kepada para
misionaris pendahulu kami melalui karya sosial, kesehatan, dan khususnya
pendidikan. Kobarkanlah kembali semangat solidaritas, subsidiaritas, dan
tanggung jawab kami untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mengembangkan
Pendidikan Katolik di Keuskupan Surabaya, demi tegaknya kembali identitas
dan misi sebagaimana Tuhan kehendaki.
Bersama Bunda Maria, pengantara segala rahmat, kami tidak takut untuk
berharap. Kami percaya akan penyelenggaraan ilahi-Mu. Kami persembahkan
segala upaya dan pengorbanan demi kemuliaan-Mu, kini dan sepanjang masa.
Amin.
DOA BAPA KAMI
PENUTUP
Doa Penutup
Bapa Sumber segala rahmat, kami mengucap syukur atas kehadiranMu menyertai
kami dalam pertemuan kedua masa Prapaskah ini. Karena sengsara, wafat dan
kebangkitan Kristus, kami diselamatkan melalui baptis yang telah kami
terima. Melalui Baptis itulah, kami disatukan dalam persekutuan Gereja yang
satu, kudus, katolik dan apostolik di paroki kami. Utuslah Roh KudusMu
menguatkan iman kami sehingga kami masing-masing bersedia tulus terlibat
dalam kehidupan paroki kami. Keterlibatan kami merupakan wujud iman pada
Yesus Kristus penebus kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah,
sepanjang segala masa, Amin.
Berkat Penutup
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di
sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga kita
semua, seluruh anggota keluarga dan
saudara kita di lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi
oleh berkat Allah
Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.
Lagu Penutup (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026