APP 2026

BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026

 

Logo APP 2026

PERTEMUAN II

HIDUP BERPAROKI


PEMBUKAAN

 

Lagu Pembuka
(jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
 

Tanda Salib dan Salam

 

Pengantar
Saudara-saudari,
Dalam pertemuan yang pertama, kita telah mendalami hakekat paroki sebagai persekutuan umat beriman Kristiani yang dibentuk secara tetap dalam batas-batas wilayah tertentu di keuskupan. Masing-masing paroki digembalakan oleh gembalanya sendiri, yaitu Pastor Kepala Paroki. Dalam menggembalakan umat paroki, Pastor Kepala Paroki menghadirkan penggembalaan bapak Uskup di parokinya. Dalam melaksanakan tugas penggembalaannya, Pastor Kepala Paroki dibantu oleh satu atau beberapa pastor rekan. Meski demikian, para pastor ini tetap memiliki banyak keterbatasan dalam menggembalakan umat paroki dengan aneka kebutuhannya. Oleh karena itu, kesediaan tulus umat paroki untuk terlibat aktif dalam penggembalaan para pastor tetap sangat diperlukan. Dengan demikian, mengembangkan kehidupan paroki bukanlah urusan romo paroki saja, tetapi merupakan urusan bersama. Maka berparoki berarti menggereja bersama.
Dalam pertemuan kedua ini, kita akan mendalami makna hidup berparoki. Oleh karena itu, marilah kita mempersiapkan diri dengan memohon kehadiran Roh Kudus untuk membimbing pertemuan ini.

Doa Pembuka
Ya Bapa yang Mahakasih, syukur kami haturkan kepadaMu, karena Engkau mengumpulkan kami kembali sebagai persekutuan umatMu yang kudus.
Hari ini kami melanjutkan perjalanan tobat di masa prapaskah dengan merenungkan kembali apa maknanya hidup berparoki.
Utuslah Roh KudusMu untuk menerangi dan membimbing pertemuan ini sehingga kami menghasilkan buah pertobatan bagi perkembangan kehidupan paroki kami.
Demi Kristus Tuhan dan Pengantara kami, kini dan sepanjang masa, Amin.

BELAJAR DARI PENGALAMAN
Setelah selesai pelantikan pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Badan Gereja Katolik Paroki (BGKP), Pak Andri, Pak Hartono, Ibu Hartono dan Pak Stef pulang bersama dalam satu mobil.

Di dalam mobil, Ibu Hartono membuka pembicaraan: Homili romo Vikep tadi bagus ya. Bahwa menjadi pengurus di paroki, entah itu di Lingkungan, Wilayah, Organisasi dan Paroki merupakan kesempatan untuk menjadi lebih beriman. Tetapi mengapa ya kok tidak banyak yang bersedia?
Langsung pak Hartono menyahut: Nyatanya yang mau ya itu-itu saja. Saya ini sudah menjadi seksi Liturgi Paroki 3 periode. Mencari penggantinya sulit. Tidak ada yang mau. Banyak alasan yang disampaikan. Ada yang tidak punya waktu, ada yang masih belum mampu, ada yang tidak berani...... banyak alasan. Pokoknya jangan saya......
Pak Andri menyambung: saya terkesan dengan homili romo yang mengatakan jika para pengurus sering mengeluh, tidak dapat bekerjasama dengan yang lain, merasa diri paling benar dan baik, maka ya tidak ada yang mau menjadi pengurus. Tak mau kalah,
Pak Hartono langsung menyambung lagi: Iya...... tadi romo Vikep mengutip kata-kata Paus Fransiskus, wajah orang Katolik seperti wajah orang yang pulang dari pemakaman,
tidak ada sukacita, ya tentu tidak ada yang bersedia menjadi pengurus. Maka yang terjadi adalah merangkap-rangkap tugas. Seksi Katekese sekaligus Ketua Lingkungan dan anggota BGKP. Kasihan kan. Kapan waktunya untuk keluarga? Ibu Wiwik tadi, dia Sekretaris DPP tetapi juga Ketua Wilayah dan Ketua WKRI.
Ibu Hartono menambah: Bukan hanya itu pak Andri. Saya tadi mengamati bahwa pengurus yang dilantik tadi ada lebih 20 orang yang usianya di atas 65 tahun. Kemana mereka yang masih muda? Sedih melihatnya.
Pak Stef yang dari tadi diam, ikut bicara: Sebenarnya yang muda banyak yang bersedia...... tapi yang tua-tua atau yang sudah lama jadi pengurus tidak memberi kesempatan yang muda......selalu saja tidak puas dengan yang muda. Tidak membiarkan anak muda melalukan dengan caranya sendiri. Yang tua merasa caranya yang paling benar.

Mendalami Pengalaman
Saudara-saudari setuju pendapat siapa? Beri alasan (singkat saja)

BELAJAR DARI AJARAN GEREJA. Pemandu (atau yang ditugaskan) membacakan dengan jelas, dan tidak perlu terburu buru. Dapat dibacakan dua kali jika diperlukan. Peserta diberi waktu hening beberapa saat untuk membaca secara pribadi dan menemukan kata atau kalimat yang berkesan (menarik).

Saudara-saudari terkasih,
mari kita membaca Pendahuluan Pedoman Dasar DPP-BGKP Keuskupan Surabaya, alinea 1 hal. 7. Saya akan membacakan terlebih dahulu, kemudian dipersilakan saudara-saudari membacanya secara pribadi dan memberi tanda pada kata atau kalimat yang berkesan.

Pedoman Dasar DPP-BGKP
( Pendahuluan, alinea 1 hal. 7).

Berparoki berarti bersama menggereja. Paroki adalah urusan bersama. Tentu saja pelaksanaan konkritnya membutuhkan pembagian tugas yang jelas dan organisasi yang mantap, mentalitas yang memadai, kepemimpinan yang partisipatif, cara kerja dan  programasi yang  konseptual-sistematis, tetapi  itu  semua  adalah  sarana  dan ungkapan untuk mengembangkan gagasan teologis yang lebih mendalam dan mendasar: berparoki berarti bersama-sama menggereja.

Pendalaman Ajaran Gereja

1. Dari ajaran Gereja tersebut, kata atau ungkapan apa yang menarik bagi saudara- saudari? (baca saja, tidak perlu dijelaskan)
2. Menurut saudara-saudari, apa yang dimaksud berparoki berarti bersama menggereja?
3. Menurut saudara-saudari, apa artinya berparoki membutuhkan pembagian tugas yang jelas dan organisasi yang mantap?



Penegasan
(dibacakan Pemandu dengan pelan dan jelas)


Saudara-saudari,
Banyak orang yang terlibat dalam paroki baik sebagai petugas maupun pengurus. Hal ini menunjukkan dengan  jelas  bahwa  hidup  berparoki adalah  bersama-sama menggereja. Dengan menerima baptis kita disatukan dalam Gereja, Tubuh Kristus. Seperti halnya tubuh kita, masing-masing anggota memiliki peran dan tugasnya masing-masing. Mereka saling bekerjasama dalam tubuh yang sama. Ketika perut lapar, yang melihat makanan adalah mata. Namun tanganlah yang mengambil makanan dan memasukan ke dalam mulut. Dan gigi di dalam mulutlah yang mengunyah makanan. Tenggorokkan menelan makanan untuk masuk ke dalam perut. Dan yang kenyang adalah seluruh tubuh. Masing-masing memiliki peran dan tugasnya sendiri namun dalam kesatuan dengan seluruh tubuh. Demikian pula sebuah paroki sebagai Gereja, sebagai Tubuh Kristus.
Maka penegasan dalam Pendahuluan Pedoman Dasar DPP-BGKP, bahwa paroki adalah urusan bersama, berarti berparoki bukan hanya urusan romo-romo; bukan hanya urusan beberapa orang pengurus, tetapi bersama-sama menggereja. Romo-romo, tanpa keterlibatan tulus dari umat beriman, paroki tidak hidup dan berkembang dengan sehat. Apakah semuanya akan dikerjakan oleh para romo, mulai dari koster, lektor, organis, mengajar katekumen, memandu pendalaman iman di Lingkungan dan Stasi, mengurus kehidupan Stasi dan Lingkungan? Tidak akan berjalan dengan baik. Dan sebaliknya, umat beriman tanpa para romo, tidak akan mengembangkan paroki. Siapa yang akan mempersembahkan Misa?  Siapa  yang  akan  membaptis? Siapa  yang  memberi sakramen pengakuan dosa? Siapa yang akan meneguhkan perkawinan? Siapa yang menggembalakan seluruh umat? Maka berparoki berarti bersama menggereja, baik para romo maupun umat beriman.


Saudara-saudari,
Keterlibatan setiap umat Katolik dalam menggereja adalah karena Baptis. Karena beriman kepada Kristus, setiap orang yang dibaptis, disatukan dalam Gereja, Umat Allah. Maka kesatuan kita dalam Gereja diikat oleh iman kepada Kristus. Oleh karena itu, keterlibatan tulus dalam mengembangkan Gereja, sekecil apapun adalah karena iman kepada Kristus. Sekecil apapun yang kita lakukan dalam kehidupan Gereja adalah demi mewujudkan iman kepada Kristus. Iman tanpa perbuatan adalah mati. Tentu kita banyak terlibat dalam kehidupan sehari-hari, entah itu di kampung, pekerjaan, maupun dalam kelompok atau komunitas lainnya. Keterlibatan kita dalam kampung karena tuntutan hidup sosial. Demikian juga keterlibatan kita dalam pekerjaan karena tuntutan pekerjaan. Sedangkan keterlibatan kita dalam kehidupan Gereja karena iman kepada Kristus. Ketelibatan ini memiliki dasar dan arti yang sangat berharga: mewujudkan iman. Jadi bukan hanya sebatas tuntutan sosial atau pekerjaan, tetapi perwujudan iman kepada Kristus. Dengan demikian bukanlah tuntutan, tetapi ketulusan karena beriman kepada Kristus.


Saudara-saudari,
Dalam ajaran Gereja di atas, dinyatakan bahwa pelaksanaan konkrit kebersamaan dalam hidup menggereja membutuhkan pembagian tugas yang jelas, organisasi yang mantap, mentalitas yang memadai, kepemimpinan yang partisipatif, cara kerja dan programasi yang konseptual-sistematis. Beberapa hal penting perlu kita sadari dalam kebersamaan menggereja.

1. Pembagian tugas yang jelas.

Banyak hal yang harus dilakukan dalam kehidupan Gereja, mulai dari Liturgi, Pewartaan, Persekutuan, Kesaksian dan Pelayanan Masyarakat. Dalam susunan kepengurusan Paroki, semua itu ada seksinya masing-masing. Maka dibutuhkan pembagian tugas yang jelas. Pembagian tugas yang jelas ini agar kebersamaan menggereja menjadi teratur, tidak asal grudukan.

2. Organisasi yang mantap.

Organisasi yang mantap ini berhubungan langsung dengan pembagian tugas yang jelas. Hal ini menunjuk langsung pada peran dan tugas masing- masing. Maka masing-masing seksi atau pengurus memahami tugasnya dan melakukan tugasnya dengan penuh iman. Semua itu dilakukan demi mewujudkan iman, memuliakan Allah dan melayani umat beriman.

3. Mentalitas yang memadai.

Karena keterlibatan dalam kehidupan Gereja Paroki sebagai perwujudan iman, maka mentalitas yang memadai juga merupakan perwujudan iman. Diantaranya: kesediaan bekerjasama, saling menghargai, kesetiaan, kemauan untuk belajar, terbuka untuk perbaikan dan menerima partisipasi dari umat, memperhatikan kaderisasi atau regenerasi. Maka hendaknya dihindari sikap: mundah mutung, selalu mengeluh, merasa benar dan paling baik, menunjuk kesalahan orang lain, dll.

4. Kepemimpinan yang partisipatif.

Hal ini menunjuk pada sikap iman terbuka untuk mengajak semakin banyak umat terlibat untuk mewujudkan iman. Karena kerterlibatan merupakan  kesempatan  untuk  mewujudkan  iman  dan  memberi  kesempatan  untuk
belajar. Selain itu, juga terbuka untuk bekerja sama dengan siapapun. Jadi bukan sikap kalau tidak aku, tidak jalan.

5. Cara kerja dan programasi yang konseptual dan sistimatis.

Pernyataan ini mengajak kita untuk tidak asal membuat kegiatan, tetapi hendaknya direncanakan yang jelas. Misalnya, tujuannya apa? Bagaimana kelanjutannya? Ukuran keberhasilannya bagaimana?



Saudara-saudari,
Kelima hal itu ditegaskan sebagai sarana dan ungkapan untuk mengembangkan gagasan teologis yang lebih mendalam dan mendasar: berparoki berarti bersama-sama menggereja. Yang dimaksud dengan gagasan teologis yang lebih mendalam adalah bahwa Gereja adalah persekutuan umat Allah. Sebagai umat Allah, Maka kehidupan Gereja menjadi tanggungjawab bersama, baik  imam maupun umat  beriman, baik  umat  biasa  maupun pengurus paroki. Kita diajak untuk menghidupi dan mengembangkan Gereja Paroki. Karena semua romo dan umat disatukan oleh iman, maka sekecil dan sesederhana apapun yang dilakukan demi menghidupi dan mengembangkan paroki merupakan perwujudan iman.


Saudara-saudari,
Sering ada keluhan bahwa yang aktif dalam kehidupan paroki orangnya itu-itu saja. Bagaimana di  paroki  saudara-saudari? Mengapa terjadi  demikian? Pernahkah saudara- saudari menjadi pengurus di paroki? Apa saja pengalaman yang menggembirakan sebagai pengurus paroki? Apa saja pengalaman yang mengecewakan? Bagaimana selama ini pembagian tugas dalam kepengurusan di paroki saudara-saudari? Benarkah semua pengurus di paroki berperan dengan semestinya? Mengapa? Pernahkah terjadi di paroki pengurus yang muthung atau ngambek? Mengapa terjadi demikian? Dalam hal apa para pengurus melibatkan banyak  orang dalam  melaksanakan kegiatan? Bagaimana relasi  antar  para pengurus di paroki saudara-saudari?

DOA UMAT
(dipersilakan menyampaikan doa-doa spontan)

Doa Ardas Tahun 2026
Mendewasakan Hidup Berparoki
Melalui Perwujudan Panca Tugas Gereja
(didoakan bersama)


Allah Bapa yang Mahakasih,
Engkaulah sumber dan tujuan kerinduan setiap manusia untuk menjadi kudus. Melalui peribadatan yang benar, sakral, dan agung, khususnya dalam Ekaristi, kami menyembah-Mu dan ambil bagian dalam karya keselamatan-Mu bagi dunia yang lebih baik.

Tuhan Yesus,
Seperti para rasul telah Kauutus, demikian pula Engkau mengutus kami. Utuslah kami menjadi pewarta Injil, pelaku keadilan, pembela kebenaran, saksi kasih, pembangun persekutuan, pelopor persaudaraan sejati, serta pejuang kelestarian alam.

Ya Roh Kudus,
Jiwailah kami dengan semangat mulia seperti yang Kaucurahkan kepada para misionaris pendahulu kami melalui karya sosial, kesehatan, dan khususnya pendidikan. Kobarkanlah kembali semangat solidaritas, subsidiaritas, dan tanggung jawab kami untuk menyelamatkan, memulihkan, dan mengembangkan Pendidikan Katolik di Keuskupan Surabaya, demi tegaknya kembali identitas dan misi sebagaimana Tuhan kehendaki.

Bersama Bunda Maria, pengantara segala rahmat, kami tidak takut untuk berharap. Kami percaya akan penyelenggaraan ilahi-Mu. Kami persembahkan segala upaya dan pengorbanan demi kemuliaan-Mu, kini dan sepanjang masa.

Amin.



DOA BAPA KAMI

 

PENUTUP


Doa Penutup

Bapa Sumber segala rahmat, kami mengucap syukur atas kehadiranMu menyertai kami dalam pertemuan kedua masa Prapaskah ini. Karena sengsara, wafat dan kebangkitan Kristus, kami diselamatkan melalui baptis yang telah kami terima. Melalui Baptis itulah, kami disatukan dalam persekutuan Gereja yang satu, kudus, katolik dan apostolik di paroki kami. Utuslah Roh KudusMu menguatkan iman kami sehingga kami masing-masing bersedia tulus terlibat dalam kehidupan paroki kami. Keterlibatan kami merupakan wujud iman pada Yesus Kristus penebus kami, yang bersama Dikau dan Roh Kudus, Allah, sepanjang segala masa, Amin.

Berkat Penutup
Marilah kita hening sejenak, mohon berkat Tuhan bagi kita yang hadir di sini, bagi keluarga dan juga bagi umat di lingkungan/stasi. Semoga kita semua, seluruh anggota keluarga dan
saudara kita di lingkungan/stasi . . . senantiasa dibimbing dan dilindungi oleh berkat Allah
Yang Mahakuasa: Dalam Nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus, Amin.
 
Lagu Penutup (jika diperlukan, dapat dipilih sendiri)
 



BAHAN PENDALAMAN IMAN AKSI PUASA PEMBANGUNAN (APP)
UMAT LINGKUNGAN/STASI
KEUSKUPAN SURABAYA TAHUN 2026