PERTEMUAN I
SEHATI DALAM DOA
(Kis. 1:12-14)
Tujuan:
1. Peserta memahami bahwa doa merupakan senjata terkuat Gereja
2. Peserta semakin tergerak untuk bersatu dengan saudara seiman dalam doa
3. Peserta terus membiasakan diri dengan doa sebelum memulai segala rencana
hidup.
Gagasan Pokok:
● Setelah Yesus naik ke surga, Gereja Perdana memulai perjalanan dan
melanjutkan karya Yesus di dunia dengan situasi yang tidak mudah.
● Para rasul memilih sikap yang tepat. Alih-alih tercerai-berai, mereka
bertekun sehati dalam doa. Kebersamaan dalam doa menyatukan, membangun
kesetaraan dan meneguhkan.
● "Sehati dalam doa" menjadi ciri khas komunitas Kristen awal dan menjadi
salah satu kunci kehidupan Jemaat. Gereja awal terbentuk dalam doa dan
kesatuan, yang semestinya menjadi pedoman perjalanan Gereja hingga sekarang.
Waktu : 60 menit
Metode : 7 langkah
PROSES PENDALAMAN
LAGU PEMBUKA
TANDA SALIB DAN SALAM
P : Dalam nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus
U : Amin
P : Rahmat Tuhan kita Yesus Kristus cinta kasih Allah dan persekutuan Roh
Kudus selalu beserta kita.
U : Sekarang dan selama-lamanya.
PENGANTAR
Saudara-Saudari terkasih, kita berjumpa kembali dalam Bulan Kitab Suci
Nasional tahun 2026. Seturut Arah Dasar Keuskupan Surabaya, tahun ini kita
akan memperdalam tema "Panca Tugas Gereja." Kita akan mendalaminya bersama
dalam empat pertemuan:
1. Sehati dalam doa (Kis. 1:12-14 )
2. Berbeda namun satu ( Ef. 4:1-16 )
3. Berpegang pada ajaran yang benar ( 2 Tim. 3:10-17 )
4. Menjadi saksi Kristus (1 Ptr. 3:8-17 )
Di pertemuan pertama kita akan melihat salah satu sisi kehidupan para murid
Yesus.
Setelah Yesus naik ke surga, mereka harus memulai perjalanan melanjutkan
karya Yesus di dunia. Situasinya tidak mudah. Mereka belum sepenuhnya
memahami masa depan, menghadapi kesulitan dan berada dalam bayang-bayang
ancaman. Alih-alih tercerai-berai, mereka memilih bertekun sehati dalam doa.
Doa menguatkan harapan.
Jemaat Perdana mengajarkan bahwa saat umat Allah bertekun dalam doa, Roh
Kudus bekerja dan mempersiapkan sesuatu yang baru. Senjata terkuat Gereja
ternyata ada pada doa yang dilakukan bersama dengan sehati dan sepikir.
1. Mengundang Kehadiran Tuhan
Marilah kita berdoa
Bapa Yang Mahakuasa dan Kekal, syukur dan terima kasih atas anugerah dan
berkat-Mu, khususnya kesempatan untuk mengalami kembali Bulan Kitab Suci
Nasional tahun 2026. Dalam pertemuan BKSN hari yang pertama ini, berkenanlah
Engkau membuka hati dan pikiran kami, dan anugerahkanlah atas diri kami
pengertian yang benar tentang hidup doa, agar dengan demikian kami kelak
boleh menjadi saluran rahmat bagi siapapun yang kami jumpai dalam hidup kami
sehari-hari. Demi Yesus Kristus Putra-Mu Tuhan dan pengantara kami yang
hidup dan berkuasa bersama Bapa dalam persatuan dengan Roh Kudus, kini dan
sepanjang masa. Amin.
2. Membaca Teks Kitab Suci
Pembacaan Kis. 1:12-14
12 Lalu kembalilah rasul-rasul itu ke Yerusalem dari bukit yang disebut
Zaitun, yang hanya seperjalanan Sabat jauhnya dari Yerusalem.
13 Setelah mereka masuk ke kota, naiklah mereka ke ruang atas, tempat mereka
menumpang. Mereka itu ialah Petrus dan Yohanes, Yakobus dan Andreas, Filipus
dan Tomas, Bartolomeus dan Matius, Yakobus anak Alfeus, dan Simon orang
Zelot dan Yudas anak Yakobus.
14 Mereka semua bertekun dengan sehati dalam doa bersama, dengan beberapa
perempuan serta Maria, ibu Yesus, dan dengan saudara-saudara Yesus.
3. Merenungkan Teks Kitab Suci
Kisah Para Rasul menceritakan tindakan Allah dalam sejarah Gereja. Bertolak
dari peristiwa yang sungguh terjadi, penulis kitab ini menggabungkannya
dengan refleksi iman. Dengan demikian, dalam penafsiran, pembaca perlu
berhati-hati, mencermati makna teologis di balik peristiwa yang dikisahkan,
tanpa melebih-lebihkan atau merendahkan keakuratan sejarahnya.
Kitab ini berkisah tentang komunitas dan penyebaran firman Allah yang
dipimpin Roh Kudus. Keselamatan yang dijanjikan kepada Israel dalam PL telah
digenapi oleh Yesus. Roh itu membuka hati bangsa bukan Yahudi terhadap pesan
keselamatan ilahi. Hasilnya, kekristenan yang awalnya berakar pada
lingkungan Yahudi berubah menjadi agama dengan daya tarik yang luas.
Dalam kitab ini tampak bahwa para murid Yesus bukan lagi orang yang sama.
Memang mereka memiliki muka yang sama, nama yang sama, karakter yang kurang
lebih sama. Petrus masih cepat bereaksi. Natanael masih seorang yang
reflektif. Filipus masih seorang yang memperhitungkan segala sesuatu. Akan
tetapi, mereka telah menjadi orang yang berbeda berkat perjumpaan dengan
Tuhan yang bangkit.
**********
Allah mengerjakan sesuatu yang besar melalui para murid Yesus. Yesus
berkata, "Kamu akan menerima kuasa bilamana Roh Kudus turun ke atas kamu,
dan kamu akan menjadi saksi-saksi-Ku di Yerusalem, di seluruh Yudea dan
Samaria dan sampai ke ujung bumi" (Kis. 1:8). Bukan hanya itu, malaikat
menegaskan bahwa Yesus yang terangkat ke surga "akan datang kembali dengan
cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga."
Setelah menyaksikan peristiwa itu para murid kembali dari Bukit Zaitun ke
Yerusalem. Jaraknya "seperjalanan Sabat jauhnya" (1:12). Menurut catatan
Misnah, itu sekitar 1 km. Mereka naik ke ruang atas, tempat mereka
menumpang. Ada yang mengatakan ini adalah ruang Perjamuan Terakhir. Meskipun
kita tidak dapat memastikan apa atau milik siapa, pasti ini suatu tempat
yang baik untuk berdoa sebab berada di ruang atas, jauh dari hiruk pikuk
jalanan.
Kisah Para Rasul mencatat daftar orang yang hadir. Semua rasul Yesus ada di
sana, kecuali Yudas Iskariot. Disebutkan pula beberapa perempuan dan Maria.
Mungkin mereka pernah membantu pelayanan Yesus (Luk. 8:2-3), mengikuti jalan
salib (Luk. 23:27-31.49.55-56) dan menjadi saksi kebangkitan-Nya (Luk.
24:1-10). Kehadiran mereka dalam doa bersama dengan para rasul cukup
mengejutkan, karena pada saat itu para perempuan belum dianggap setara
dengan laki-laki. Maria, ibunda Yesus, hadir pula. Kehadirannya meneguhkan
mereka.
Yesus memang mengutus mereka untuk menjadi saksi sampai ke ujung bumi. Akan
tetapi, sebelum semuanya itu terjadi, yang pertama-tama mereka lakukan
adalah bertekun dengan sehati dalam doa bersama" (Kis. 1:14). "Sehati"
menjadi salah satu kunci kehidupan jemaat dalam Kisah Para Rasul. Kini
mereka sehati dalam doa. Mereka memusatkan doa-doa mereka pada apa yang
telah mereka dengar dan lihat beberapa hari terakhir itu.
Berikut beberapa contoh:
● Semua bertekun dan sehati
● Bersama Maria, ibu Yesus
4. Mendengarkan Tuhan Berbicara
a) Sudahkah aku membangun hidup doa, baik secara pribadi maupun bersama?
b) Usaha apa yang aku lakukan untuk membangun hidup doa?
c) Apakah aku memulai segala rencana hidupku dengan doa?
5. Sharing Iman atas Teks Kitab Suci
Berikut contoh sharing.
● "Kata ini menggugah saya secara pribadi karena............"
● "Kalimat ini menginspirasi saya secara pribadi karena............"
● "Ayat ini menegur saya secara pribadi karena............"
6. Pesan dan Penegasan
Setelah Yesus naik ke surga, Gereja Perdana harus memulai perjalanan dan
melanjutkan karya Yesus di dunia. Situasinya tidak mudah. Mereka belum
sepenuhnya memahami masa depan, menghadapi kesulitan dan berada dalam
bayang-bayang ancaman. Biarpun demikian, mereka bertindak tepat. Mereka
memilih bertekun sehati dalam doa. Doa menguatkan harapan dan menyatukan
yang tercerai-berai. Jemaat Perdana mengajarkan bahwa ketika umat Allah
bertekun dalam doa, Roh Kudus bekerja dan mempersiapkan sesuatu yang baru.
Para murid menantikan kedatangan Roh Kudus dengan "sehati dalam doa
bersama." Ini menggemakan kata-kata Tuhan sendiri, "Jika dua orang dari
antara kamu di bumi ini sepakat tentang semuanya itu dan memintanya,
permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di surga. Sebab, di
mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama-Ku, di situ Aku ada di
tengah-tengah mereka" (Mat. 18:19-20).
Kata-kata Tuhan terbukti. Peristiwa penting dalam sejarah kelahiran Gereja
dinantikan dengan doa. Setelah bertekun sehati dalam doa itu, para rasul
memilih Matias sebagai pengganti Yudas dan menerima karunia Roh Kudus dalam
Pentakosta. Hal ini menunjukkan bahwa saat menantikan karya Tuhan, para
murid berdoa. Setiap tindakan Allah yang luar biasa dalam selalu diiringi
dengan doa (misal. Kis. 1:24; 8:14-17; 9:11-12; 10:4.9.30; 13:2-3). Pendek
kata, sejarah rohani dari suatu misi atau Gereja tertulis dalam kehidupan
doanya.
Ada sebuah kisah legenda kuno tentang seorang raksasa bernama Antaeus, yang
lahir dari bumi. Agar tetap hidup, raksasa ini wajib menyentuh bumi sesering
mungkin, yaitu setiap lima menit sekali, dan setiap kali ia bersentuhan
dengan bumi, ia menjadi dua kali lebih kuat dari sebelumnya. Orang Kristen
bisa belajar dari cerita Antaeus. Agar menjadi dan tetap menjadi orang
Kristen yang benar-benar hidup, mereka perlu sering mendekati Allah melalui
doa.
Gereja Perdana mengajarkan bahwa ketika Allah hendak mengerjakan sesuatu
yang besar di dunia, Ia pertama-tama menghendaki umat-Nya untuk berdoa. Doa
para rasul adalah doa yang sungguh-sungguh. Doa mereka berbuah. Dalam
pengalaman kita, tidak banyak yang bisa kita lakukan untuk mengubah
seseorang menjadi lebih baik. Teguran keras kadang memperburuk keadaan.
Namun, kita dapat bertekun dalam doa untuk mereka. Ada begitu banyak doa
yang tak putus yang akhirnya terjawab.
7. Doa Syukur
Saudara sekalian, sekarang marilah kita ungkapkan rasa syukur kita lewat doa
spontan sebagai tanggapan atas sabda Tuhan yang telah kita renungkan bersama
............
Kita satukan seluruh rasa syukur kita ini dengan doa yang diajarkan oleh
Kristus sendiri:
Bapa Kami............
8. Penutup
Marilah kita berdoa,
Allah Bapa kami di surga, puji dan syukur kami haturkan kehadirat-Mu atas
teladan indah yang diberikan kepada kami melalui kehidupan para rasul-Mu.
Mereka dengan bertekun, sehati berdoa, bersama dengan beberapa wanita dan
Bunda Maria. Semoga kami pun selalu berusaha bertekun, sehati untuk
membangun hidup doa baik secara pribadi maupun bersama dalam keluarga maupun
lingkungan kami. Maka tolonglah kami, ya Tuhan, umat ini, yang sering malas,
lupa untuk membangun hidup doa. Dengan pengantaraan Kristus Tuhan kami.
BERKAT PENUTUP
P. Semoga Tuhan beserta kita.
U. Sekarang dan selama-lamanya.
P. Semoga Allah yang maha kuasa memberkati kita semua: Dalam nama Bapa, dan
Putra dan Roh Kudus.
U. Amin
LAGU PENUTUP